Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah kabar mengenai ambisi Presiden Donald Trump untuk menguasai Greenland mencuat ke permukaan. Pemerintah AS disebut tengah melakukan kajian mendalam terkait perkiraan biaya yang harus dikeluarkan serta potensi keuntungan ekonomi dari wilayah yang merupakan bagian dari Denmark tersebut.
Gambar Istimewa: republika.co.id
Seorang sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Gedung Putih telah melakukan diskusi mengenai biaya-manfaat dari akuisisi Greenland. Pertanyaan utama yang diajukan dalam kajian ini adalah: Berapa biaya yang harus dikeluarkan AS untuk memelihara Greenland sebagai teritori baru?
Menurut laporan yang dikutip dari Antara, Rabu (2/4/2025), pemerintah AS telah menghitung konsekuensi finansial dari rencana ini, termasuk besarnya anggaran untuk layanan publik bagi sekitar 58.000 warga Greenland. Proses ini telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Dana Rp10 Triliun per Tahun untuk Greenland
Salah satu strategi yang dipertimbangkan adalah penyediaan dana tahunan hingga 600 juta dolar AS (setara Rp10 triliun) kepada Greenland. Jumlah ini serupa dengan dana yang dikucurkan Denmark guna mendukung operasional layanan publik di wilayah tersebut.
Menariknya, sumber yang sama juga mengungkapkan bahwa Trump menganggap akuisisi Greenland sebagai langkah termudah dibandingkan opsi aneksasi lainnya yang mencakup Kanada dan Terusan Panama. Dalam pandangan Trump, Greenland memiliki posisi strategis serta sumber daya alam melimpah yang dapat memberikan keuntungan besar bagi Amerika Serikat.
Namun demikian, meskipun menjadi bagian dari agenda diskusi Gedung Putih, rencana ini bukan menjadi prioritas utama dalam kebijakan keamanan nasional AS. Greenland lebih dianggap sebagai “keuntungan tambahan” setelah AS menyelesaikan sejumlah agenda besar, seperti konflik Rusia-Ukraina, persoalan Israel-Palestina, serta strategi menghadapi Iran.
Taktik AS untuk Memikat Greenland
Selain merancang strategi finansial, pemerintahan Trump juga mempertimbangkan berbagai cara untuk membujuk Greenland agar semakin tertarik untuk bergabung dengan AS. Beberapa opsi yang dipertimbangkan termasuk insentif ekonomi, bantuan infrastruktur, serta kerja sama strategis dalam berbagai bidang.
Denmark sendiri telah menolak gagasan penjualan Greenland sejak wacana ini pertama kali mencuat pada 2019 lalu. Namun, dengan pendekatan baru yang lebih diplomatis, AS tampaknya mencoba menggoda Greenland untuk berpisah dari Denmark dan memilih menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Ambisi AS untuk menguasai Greenland jelas bukan sekadar wacana. Dengan kajian mendalam yang sedang dilakukan, tampak bahwa pemerintahan Trump ingin memastikan bahwa langkah ini menguntungkan secara ekonomi dan geopolitik. Meski demikian, banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama dari reaksi Denmark dan pandangan masyarakat Greenland sendiri. Apakah strategi ini akan berhasil? Hanya waktu yang bisa menjawab.