Kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden Donald Trump berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan dunia. Kenaikan tarif impor ini tidak hanya berdampak bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi negara-negara mitra dagangnya.
Langkah terbaru ini diumumkan dalam pidato di Rose Garden, Gedung Putih, pada Rabu lalu. Trump menegaskan bahwa pemerintahannya akan menerapkan tarif dasar 10% pada seluruh barang impor. Tak hanya itu, beberapa negara mitra utama, termasuk China dan Uni Eropa, akan menghadapi tarif yang lebih tinggi, masing-masing sebesar 34% dan 20%. Sektor otomotif dan suku cadang juga tak luput dari kebijakan ini, dengan tarif baru sebesar 25%.
Gambar Istimewa: detik.net.id
Trump beralasan bahwa kebijakan ini diperlukan untuk memulihkan sektor manufaktur AS, yang menurutnya telah lama tergerus akibat globalisasi dan perdagangan bebas. Namun, di balik alasan tersebut, para ekonom justru melihat adanya risiko besar bagi ekonomi global.
Dampak Tarif Baru: Inflasi, Ketidakpastian, dan Risiko Resesi
Kebijakan tarif ini datang pada saat yang kurang menguntungkan. Ekonomi global baru saja mulai pulih dari tekanan inflasi pascapandemi, tetapi kini harus menghadapi ancaman baru dari kenaikan harga barang dan jasa akibat tarif impor yang lebih tinggi.
Menurut Antonio Fatas, makroekonom dari INSEAD, kebijakan ini bisa menjadi pemicu perlambatan ekonomi AS dan dunia. “Kita mungkin akan melihat peningkatan ketidakpastian ekonomi dan bahkan kemungkinan resesi global,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Kamis (3/4/2025).
Sementara itu, data dari Fitch Ratings menunjukkan bahwa rata-rata tarif impor AS kini melonjak menjadi 22%, dibandingkan hanya 2,5% pada tahun 2024. Tingkat tarif ini adalah yang tertinggi sejak tahun 1910.
Reaksi Dunia: Ketidakpastian dan Ancaman Perang Dagang
Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada AS, tetapi juga pada banyak negara mitra dagang. Menurut Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF, meski belum ada tanda-tanda resesi global saat ini, IMF berencana menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di 2025, yang sebelumnya diperkirakan sebesar 3,3%.
Tarif yang dikenakan juga bervariasi untuk setiap negara. Inggris dikenai tarif 10%, sementara Kamboja menghadapi tarif tertinggi sebesar 49%. Jika kebijakan ini memicu perang dagang yang lebih luas, dampak terbesarnya akan dirasakan oleh negara-negara produsen utama seperti China, yang harus mencari pasar alternatif di tengah melemahnya permintaan global.
“Ekonomi Asia akan terkena dampak lebih besar dibanding wilayah lain akibat tarif balasan dari AS,” kata Marcel Thieliant, kepala analisis Asia-Pasifik di Capital Economics.
Negara-negara di Asia, terutama China, Jepang, dan Korea Selatan, sangat bergantung pada permintaan barang dari AS. Jika tarif perdagangan meningkat, maka eksportir Asia harus mencari pasar baru, yang tidak selalu mudah dilakukan dalam waktu singkat.
Masa Depan Perdagangan Dunia di Titik Kritis
Keputusan Trump untuk menerapkan tarif impor tinggi ini menambah ketidakpastian bagi ekonomi global. Kebijakan ini berisiko menaikkan harga barang, mengurangi permintaan, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Sementara AS ingin melindungi industri dalam negerinya, banyak negara lain kini harus menghadapi dampak buruk dari kebijakan proteksionisme ini.
Jika tidak dikelola dengan baik, langkah ini dapat menjadi pemicu perang dagang baru yang berpotensi mengguncang perekonomian dunia. Negara-negara mitra dagang AS kini harus mencari solusi untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap pasar AS, sebelum dampak kebijakan ini semakin meluas.